Selasa, 09 Desember 2008

Taubat (1/2)

Taubat

Kitab Riadhu Sholihin

Hadist 16

Hadis yang disampaikan Abu Musa ra yaitu, “Sesunggahnya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT membentangkan tangannya diwaktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat dosa di siang hari, setelah ditunggu malam ini ada yang bertaubat, kemudian disiang hari Allah menawarkan lagi kepada kita untuk menerima taubatnya orang-orang yang bermaksiat di malam hari. Hingga timbulnya matahari ditempat yang bukan tempatnya (terbit dari barat/tanda kiamat)”

Sekilas tentang perowi hadist, Abu Musa al As’ari

Diriwayatkan oleh Abu Musa al As’ari ra yaitu Abdillah ibnu Qais ibnu Sulaim Abu Musa al As’ari Attamimi ra, ibunya bernama Tobyah bintu Wahab yang meniggal dalam keadaan Islam. Abu musa masuk Islam dalam periode Mekkah sebelum hijrah, al as’ari adalah kobilah dari Yaman yang kata Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist, akan datang satu kelompok yang hatinya begitu lunak dan mudah tersentuh dengan ke-Islaman bahkan mereka lebih lunak dari kalian (bangsa arab/hijaz), kemudian tidak beberapa lama datanglah kaum as’ari yang di maksudkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika mereka mendekat sebelum masuk kota Madinah, mereka mengucapkan sebuah syair ‘besok kita akan ketemu kekasih kita yaitu Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya’. Dalam satu ayat disebutkan, Nanti Allah akan datangkan suatu kaum yang mereka dicintai dan mencintai Nabi Muhammad SAW yang dimaksudkan adalah kaum as’ari.

Abu musa mempunyai 2 kakak, yaitu Abu Ruhm ra dan Abu Amir ra. Abu Amir ra meninggal ketika diutus oleh Nabi Muhammad SAW setelah perang hunain. Rasulullah mengirim pasukan kecil untuk masuk ke kobilah Jaiz autos, dan beliau adalah salah satu dari pasukan kecil itu. Ketika masuk kobilah tersebut ada perlawanan, Abu Amir ra yang mahir menggunakan pedang tetapi dipanah dari belakang oleh musuh, ketika kakaknya jatuh Abu Musa ra menyusul kemudian menanyakan kenapa engkau sampai terkena panah, apakah karena engkau lengah dalam peperangan, beliau menjawab tidak karena aku dipanah dari belakang. Ketika dilihat dibelakang ada musuh yang siap hendak melarikan diri, lalu Abu Musa ra mengejar orang itu. Lalu ia berkata ’wahai fulan apa kah begini sikap orang arab’ (karena orang arab terkenal dengan keberaniannya), lalu orang itu kembali dan menghadapi Abu Musa ra, terjadi perlawanan hingga orang arab tersebut mati. Setelah itu Abu Musa ra kembali menghampiri kakaknya dan mengatakan bahwa ia telah membunuh orang yang memanah kakaknya itu. Abu Amir ra memerintahkan untuk dicabut panah dari tubuhya, dan ketika dicabut keluar darah dan setelah itu keluar cairan. Beliau berkata kalo begini ajalku sudah dekat (karena lukanya yang sudah sangat parah), lalu beliau mengatakan sampaikan salamku kepada nabi Muhammad SAW.

Subhanallah... Ini menunjukkkan kecintaan sahabat kepada Nabi Muhammad SAW, dalam keadaan demikian tidak mengingat fulan, keluarganya atau ibunya tp beliau mengingat Nabi Muhammad SAW. Artinya aku terluka ini karena aku menjalankan perintahnya Nabi Muhammad SAW. Banyak sahabat yang demikian, bahkan ada sahabat yang diisyaratkan akan masuk syurganya Allah tp sahabat ini tidak terlihat gembira. Ketika ditanya kan kenapa, dia menayakan Ya Rasulullah SAW apakah aku di syurga akan bertemu dengan mu, ketika dikatakan akan bertemu baru sahabat ini tersenyum.

Kemudian Abu Amir ra minta kepada Abu Musa ra untuk mendo’akan agar diberikan ampunan oleh Allah, lalu dia meninggal dunia. Al Imam Nawani mengambil riwayat ini karena Abu Musa ra berhadapan dengan kakaknya yang memintakan ampunan kepada Allah ketika sebelum meninggal. Lalu Abu Musa ra menyampaikan apa yang dipesankan, lalu Nabi Muhammad SAW langsung mengangkat tangannya dan berdo’a dengan khusyu “ya Allah ampunilah dosa Abu Amir” dengan tangan yang tinggi hingga Abu Musa ra berkata beliau bisa melihat putihnya ketiak Nabi Muhammad SAW menunjukkan kekhusukan Rasulullah SAW ketika berdo’a. Setelah itu Abu Musa berkata ‘saya juga minta supaya mendapat ampunan Allah’ saat itu Rasulullah mengangkat tangannya lagi sambil berdo’a “Ya Allah ampunilah kepada Abdullah ibnu Qais dari dosa2nya dan masukkanlah dia ke dalam tempat Mu yang mulia (yaitu syurganya Allah)”. Cukuplah satu hadist ini merupakan keutamaan dan kemuliaan Abu Musa ra yang langsung mendapatkan do’a dari Nabi SAW suapaya diberi ampunan dan dimasukkan kedapam surganya Allah.

Adapun kelebihan yang menyangkut Abu Musa ra adalah beliau orang yang suka sekali melantunkan kalimat-kalimat Allah SWT. Rasulullah SAW ketika malam dan gelap suka mendengerkan suara yang melantunkan kalimat-kalimat Allah yaitu suaranya Abu Musa ra. Suaranya merupakan suara yang merdu, ada satu hadist yang menyebutkan ‘Abu Musa telah diberikan suara/kalimat/nada yang begitu merdu seperti merdunya Nabi Allah Daud as’. Bahkan dalam suatu kejadian Rasulullah pernah mengatakan ‘Wahai Abu Musa seandainya kamu tau apa akibat dari suara kamu ketika membacakan ayat-ayat Allah niscaya kamu tidak akan menghentikan bacaanmu karena malaikat ikut berkumpul mendengarkan’.

Abu Musa di karuniakan sebagian dari merdunya suara Nabi Allah Daud as. Nabi Allah Daud as diberikan suara yang begitu merdu, kata Al Imam ibdu Katsir ra, salah satu mu’jizat Nabi Allah Daud as, ketika membacakan dzabur maka semua manusia, hewan dan jin akan berhenti mendengarkan suara beliau dan tidak sedikit binatang yang lupa makan hingga mati karena menikmati merdunya suara Nabi Allah Daud as. Tapi Nabi Allah Daud as tidak pernah makan dari suaranya atau jabatannya sebagai raja, tp dari hasil tangannya membuat senjata kemudian dijual. Oleh karena itu kata Nabi Muhammad SAW ‘sebaik-baiknya rizki adalah yang dihasilkan dari tangannya’ seperti yang dilakukan oleh Nabi Allah Daud as. Terlebih lagi suara jika digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Kalo kita lihat sekarang subhanallah, baru diberi nikmat suara sedikit bagus sudah menjual agamanya. Padahal suara itu datangnya dari Allah dan nanti akan dituntut oleh Allah suara yang indah itu digunakan untuk menjadikan orang lain mendekat atau semakin menjauh kepada Allah.

Kebiasaan orang-orang arab itu memberi kiasan kepada seseorang seperti perumpamaan yang di berikan Rasul SAW kepada Abu Musa ra ini. Abu Musa ra juga termasuk ulama sahabat dari segi keilmuan. Al Aswat ibnu Yazid ra pernah mengatakan “Aku tidak pernah melihat dikufah / dibagdad saat itu orang yang lebih alim dari pada Ali bin Abi Thalib dan Abu Musa al as’ari”. Para ulama sepakat bahwa orang yang bisa menentukan hukum dan paling banyak menentukan fatwa yang pertama Ali bin Abi Thalib ra, lalu Umar bin Khatab ra , Abdullah Ibnu Mas’ud ra, Ubay bin kaab ra, Zaith bin Tsabit ra dan Abu Musa al as’ari ra. Seperti yang kita tau Perowi hadist yang paling banyak adalah Abu Hurairah ra, tp beliau tidak mengeluarkan hukum, karena kesepakatan ulama ahlussunnah wal jamaah tidak berarti orang yang paling banyak meriwayatkan hadist belum tentu yang paling alim. Abu Musa ra termsuk ulamanya para sahabat, padahal yang paling bodohnya sahabat dizaman Rasulullah adalah ulamanya ummat apalagi ulamanya para sahabat Rasulullah SAW.

Beliau meninggal pada tahun 42 Hijriah, 31 th setelah meniggalnya Nabi Muhammad SAW.


Kematian: Jangan Pernah Engkau Lupakan!! (2/2)

3. Bersifat Qana’ah

Orang yang banyak mengingat kematian bersifat qana’ah yaitu menerima dengan penuh ikhlas apa yang telah diberikan Allah SWT kepadanya. Berkata Anas bin Malik ra sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; “Tidak mengingat kematian salah seorang diantara kalian dalam keadaan kesempitan kecuali menjadi luas”

Orang yang bersifat qona’ah hidupnya dinaungi ketenangan dan kemuliaan serta menjadi orang kaya, Ali bin Abi Thalib ra pernah mengatakan; “Sifat qana’ah adalah dasar kekayaan yang sesungguhnya”.

Sebanyak apapun harta yang diperoleh dan dimiliki oleh seseorang tidak akan pernah memuaskannya jika tidak ada sifat qana’ah dalam hatinya.

Rasulullah SAW bersabda; “Seandainya manusia memiliki sebuah wadi yang dipenuhi pihon kurma niscaya dia akan berangan-angan untuk memiliki ylang serupa (satu wadi lagi dan jika sudah memilikinya) nisacaya dia akan berangan-angan untuk memiliki yang serupa dengannya bahkan dia akan berangan-angan untuk memiliki beberapa wadi lagi (begitulah seterusnya) dan (sungguh) tidak akan memenuhi perut manusia kecuali diisi dengan tanah (yaitu mati)” [Faidhul Qadir, Jil. 5, hal 417, Al-Imam Nawawi dalam kitabnya tersebut memberikan kode atau tanda keshahihan hadist ini].

Qana’ah membuat manusia menjadi bersyukur dan mendapatkan ketengan di dalam hidpnya. Jalan terbaik untuk menumbuhkan sifat qana’ah pada diri seseorang adalah dengan banyak mengingat kematian.

Imam Nawawi telah mengungkapkan dalam syairnya tentang pentingnya Qana’ah pada seorang Muslim: “Aku dapati qana’ah adalah dasar kekayaan. Maka aku berjalan dan memegang dengan bayangan qana’ah. Maka aku hidup kaya tanpa dirham. Aku berjalan dihadapan manusia bagaikan seorang raja”.


4. Bersegera Untuk Beramal

Banyak mengingat kematian menimbulkan semangat seseorang untuk banyak beramal demi mencapai kebahagiaan akherat. Berkata Jabir bin Abdullah ra, Rasulullah SAW pernah berkhutbah di hadapan kami dengan mengatakan; “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah SWT sebelum kalian mati dan bersegeralah kalian melakukan amal sholeh sebelum sibuk dan sambunglah hubungan antara kamu dengan Tuhan kamu dengan banyak mengingat-Nya dan banyak bersedekah di saat sepi dan ramai”.

Raasulullah SAW bersabda; “Setiap orang yang meninggal dunia diantara kalian pasti merasa menysal, para sahabat bertanya; Penyesalan terhadap apa ya Rasul? Nabi Muhammad SAW menjawab: “Apabila si mayyit itu orang baik dia menyesal mengapa tidak lebih banyak beramal dan jika si mayyit itu orang yang tidak baik dia menyesal mengapa dicabut ruhnya padahal dia belum sempat beribadah” [HR. Imam Turmudzi, Kitab Zuhud bab 59 dan Imam Baihaqi, Kitab Az-Zuhud].

Ketergesa-gesaan merupakan hal yang dilarang dalam Agama Islam, dikatakan “ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan”, tetapi bila berkaitan dengan amal atau ibadah maka harus disegerakan dan tidak boleh ditunda-tunda.

Allah SWT berfirman; “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” [QS. Alu Imran, 133], Rasulullah SAW bersabda: “Tidak tergesa-gesa dalam segala urusan itu adalah suatu kebaikan kecuali dalam beramal untuk akherat” [HR. Imam Abu Daud, Imam Hakim, Kitab Al-Mustadrak dan Imam Baihaqi (At-Targhib,4/125)].


Kematian: Jangan Pernah Engkau Lupakan!! (1/2)

Kematian

Jangan Pernah Engkau Lupakan!!


Tidak ada sebuah perintah atau larangan dalam Agama Islam melainkan mengandung manfaat, kebaikan dan keberuntungan baik di dunia atau di akhirat semua kebaikannya itu akan kembali kepada orang yang melakukannya.

Allah SWT berfirman; “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuatjahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” [Al-Isra’, 7]

Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad mengatakan; “Ketahuilah! Banyak mengingat kematian merupakan perbuatan yang disunnahkan dan dianjurkan, dalam mengingat kematian ada beberapa manfaat dan faedah diantaranya: Pendek angan-angan, bersifat zuhud dalam kehidupan dunia, bersifat qana’ah (menerima) yang sedikit, menimbulkan semangat untuk mencapai akhirat dan mempersiapkan untuk menyambut kematian itu dengan amal-amal sholeh” [Nashaihud Diniyyah Wal Washaya Imaniyyah, hal 43]

Dari perkataan Habib Abdullah ini, maka diketahui bahwa mengingat kematian itu banyak faedahnya, diantaranya:


  1. Pendek Angan-angan

Ketika seseorang banyak mengingat kematian maka hilanglah angan-angan untuk menggapai berbagai kemegahan dunia, Rasulullah SAW bersabda; “Jadilah engkau hidup di dunia seakan-akan menjadi orang asing” [HR. Bukhari, Kitab Ar-Riqaq, no. 6053]. Dalam riwayat lain dikatakan; “Apabila kamu di waktu sore hari janganlah mengangankan pagi hari, dan bila di pagi hari maka janganlah mengangankan sore kari manfaatkan hidupmu untuk kematianmu dan dari kesehatanmu untuk masa sakitmu karena sesungguhnya kamu wahai Abdullah tidak mengetahuai apa namanu pada besok hari” [Ibid].

Selain hadist tersebut, masih banyak hadist lain yang menganjurkan kepada kita untuk menghilangkan panjang angan-angan, Rasulullah SAW bersabda; “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya tidak terpejam mataku melainkan kau mengira tidak dapat dibuka kembali, tidak kuangkat bejana (gelas) dimulutku kecuali ruh-ku pergi terlebih dahulu, tidak mengunyah sesuap nasi kecuali Allah SWT terlebih dulu mencabut ruh-ku”. Jadikanlah hidupmu di dunia seperti orang asing yang pasti akan kembali ke negara aslinya.

Bagaimana mungkin kita berpanjang angan-angan sementara kematian selalu mengintai, Rasulullah SAW pernah menggambarkan kepada para sahabat bagaimana manusia itu dikelilingi oleh kematian. Beliau mengambil tiga buah batang kayu lalu menancapkan satu tiang di hadapannya, yang lainnya ditancapkan di sisinya dan yang ketiga dilempar jauh, lalu beliau bertanya; tahukah kalian pada apa arti semua ini? Para sahabat mengatakan; Allah SWT dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Nabi bersabda; “Ini (batang yang ditancapkan) adalah ibarat manusia dan yang ini (batang yang ditancapkan disisinya) adalah ajalnya sendangkan yang itu (batang yang dilempar jauh) adalah angan-angan yang ingin digapai manusia tetapi ajal membuyarkan semua angan-angan itu”.

Ajal atau kematian itu selalu mengintai dan terlalu dekat dengan manusia sedang angan-angan itu teramat jauh, lalu mengapa banyak manusia yang lebih memikirkan yang jauh sedang yang dekat di dilipakannya.

Ketika seseorang meniggalkan untuk membaca Al-qur’an walau hanya satu baris saat ini demi untuk membaca Al-Qur’an satu juz esok harinya merupakan salah satu contoh panjang angan-angan, hendaknya seseorang Muslim mensegerakan untuk mengerjakan kebaikan sekecil apapun dan janganlah suka menunda kebaikan.


  1. Bersifat Zuhud

Orang yang banyak mengingar kematian sudah dapat dipastikan dia akan bersifat zuhud tidak rakus dengan kemewahan dunia, dunia baginya hanya sebatas jembatan atau sarana untuk menggapai kebahagiaan dan kehidupan akherat.

Zuhud bukan berarti tidak boleh kaya, tetapi seseorang yang bsesifat zuhud itu kekayaannya tidak masuk ke dalam hati, harta dan kedudukannya naya sampai pada kantung mereka.

Muhammad al-Baqir pernah mengatakan; ‘Seandainya aku diberi Allah SWT kekayaan sebanyak dunia dan seisinya lalu tiba-tiba hilang semuanya dalam sekejap mata, maka aku malu kepada Allah SWT untuk mengeluarkan satu tetes air mataku karena harta yang hilang tersebut”

Orang yang banyak menigngat kematian akan besifat zuhud dan mereka yang zuhud tidak bakhil terhadap apa yang diberikan Allah SWT kepadanya,dia akan murah tangan banyak bersedekah sebelum ajalnya tiba, Rasulullah SWT beersabda; “Seseorang bersedekah saat hidup dan sehatnya sebanyak satu dirham lebih baik baginya daripada bersedekah seratus dirham menjelang ajalnya” [HR. Imam Abu Dawud dan Ibnu Hibban dalam kitabnya As-Shahih dari riwayat Surahbil bin sa’at dari Abu Said al-Khudri ra (At-Targhib, jil. 4 hal.17)].

Dalam hadist lain dikatakan; “Orang yang bersedekah menjelang detik-detik ajalnya bagaikan bersedekah setelah mengalami kenyang” [HR. Imam Abu Daud, Kitab Al-I’taq Bab 15, Imam Turmudzi, Kitab Al-Washaya Bab 7 dari sahabat Abu Darda’ ra].


Orang Pintar: Mereka yang mengingat kematian

Dibalik Musibah Ada Kasih Sayang Allah

Habib Abdurrahman Assegaf


Orang Pintar

Mereka yang mengingat kematian


Banyaknya ayat yang berbicara tentang kematian dan hadist dari Rasulullah SAW yang menganjurkan kita untuk tidak pernah melupakan kematian, bahkan dianggap bodoh bagi mereka yang melupakan kematian dan tergolong orang pintar serta cerdas bagi mereka yang selalu mengingatnya.

Berkata Ubnu Umar ra, seseorang pernah datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya; “Ya Rasul, siapakah orang yang cerdas dan pintar itu?, Nabi Muhammad SAW bersabda “Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian, mereka itu adalah orang yang pintar mereka pergi meniggalkan dunia dengan kemuliaan dan keutamaan akherat” [HR. Ibnu Majah dengan sanad yang baik, Ibnu Abi Duria dan Imam Baihaqi dalam kitab Zuhud, Targhib 4/119]

Anas bin Malik ra mengatakan, ketika Rasulullah SAW melewati sekelompok orang yang sedang tertawa terbahak-bahak, beliau mengatakan kepada mereka; “Perbanyaklah oleh kalian mengingat yang menghilangkan kenikmatan” [HR. Imam Munziri dalam kitabnya Targhib, 118] terusan riwayat ini “Tidak mengingat kematian salah seorang diantara kalian dalam keadaan kesempitan kemudian menjadi luas dan tidak mengingatkan dalam keadaan luas melainkan menjadi sempit”.

Kematian adalah musibah besar yang menimpa seseorang sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an; “Hai orang-orang yang beriman, apa bila salah seorang kamu menghadapi kematian sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah disaksikan oleh dua orang yang adil diantara kamu atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu tertimpa musibah kematian” [Al-Maidah, 160]

Kematian merupakan musibah besar tetapi ketahuilah sungguh saat seseorang lupa terhadap kematiannya merupakan musibah yang lebih besar dari kematian itu sendiri.

Rasulullah SAW tidak bosan-bosannya mengingarkan agar kita tidak melupakan kematian. Karena dengan mengingat kematian seseorang akan lebih dapat menjaga perbuatan, lisan dan hatinya.

Robi’ bin Khaitsam menggali kubur dalam rumahnya dan setiap hari dia tidur di dalamnya demi untuk mengingat kematian, beliau berkata; “Seandainya mengingat kematian berpisah dari hatiku seseaat saja niscaya hatiku akan mengalami kerusakan”.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz biasa mengumpulkan para ulama setiap malam untuk mengingatkan tentang kematian, hari kiamat dan akhirat. Setelah itu mereka semuanya menangis karena memikirkan tentang kematian yang akan mereka hadapi.

Dari penjelasan di atas, diketahui bahwa dengan mengingatkan kematian seseorang akan selalu beramal sholeh dan takut untuk bermaksiat dan sebaliknya dengan melupakan kematian orang mudah untuk melanggar aturan-aturan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Tidak berlebihan kiranya jika kita katakan bahwa, kemaksiatan yang menyebar di atas muka bumi saat ini tidak lain salah satu akibat dari kelalaian manusia untuk mengingat kematian.

Ketika Abdullah bin Idris menghadapi kematiannya, anak-anak putri beliau bersedih hingga tidak dapat menahan tangisnya, mendengar tangisan putri-putrinya itu Abdullah mendekap mereka seraya berkata; “Wahai putri-putriku! Janganlah kalian menangisi kepergian ayahmu ini, sungguh atu telah mempersiapkan untuk menyambut datangnya kematian ini dengan banyak membaca Al-Qur’an bahkan di rumah ini saja aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak empat ribu kali”


Selasa, 02 Desember 2008

Kebahagiaan yang Hakiki

Kebahagiaan yang Hakiki


Oleh: Al-Habib Abdullah Haddad

Kitab : ‘An-nashaaih ad-diniyah wal washaaya alimaaniyah”

Majalah Akhbar Rabithah edisi kesembilan/Rhamadhan 1429H/Sept 2008


Ketahuilah, bahwa tanda bahagia ialah, manakala Allah SWT memberi taufik kepada hamba-Nya untuk beramal saleh di masa hidup dan memudahkan baginya jalan menuju ketaatan. Akan halnya tanda celaka ialah manakala Allah SWT menyulitkan baginya untuk beramal saleh dan dibukakan pula jalan untuk melakukan kejahatan.

Rasulullah SAW bersabda:

Bekerjalah, sesungguhnya setiap orang itu dimudahkan kepada apa yang ditakdirkan baginya. Jika ia ditakdirkan menjadi ahli surga, maka akan dimudahkan baginya amalan ahli surga, jika ditakdirkan menjadi ahli neraka maka akakndimudahkan baginya amalan ahli neraka

Ketahuilah, bahwa seorang mu’min yang sungguh-sungguh memperhatikan urusan agamanya, yang teguh ilmu dan keyakinannya ialah orang yang memperbaiki amalannya terhadap Allah SWT dan giat menyempurnakannya. Setelah itu baru ia boleh menyandarkan diri kepada Allah SWT dan rahmad-Nya.

Sebagaimana para anbiya, ulama, salaf saleh dan orang-orang yang mengikuti jejak langkahnya, semuanya tidak menggantungkan diri kepada amal ibadah, melainkan mengharapkan rahmat Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

Tak seorangpun bisa memasuki surga dengan amalannya”. Para sahabat bertanya, “Sama jugakah engkau, wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda, “Begitu pula aku, melainkan Allah memasukkan aku didalam rahmad-Nya”

Sebagai contoh, Rasulullah SAW sendiri amat rajin mengerjakan amal saleh, sehingga kedua tumitnya bengkak karena terlampau banyak sholat waktu malam.

Akan halnya orang yang rajin beramal saleh, kemudian dia bergantung kepada amalannya itu, maka ia adalah seorang yang ‘ujub dengan dirinya, berani dengan Tuhannya. Sebab amalannya tidaklah berarti tanpa rahmat Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nur 21, “.....sekira tidaklah karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dapri perbuatan keji dan munkar itu) selamanya, tetapi Allah memberihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah maha Mendengar lagi maha Mengetahui”.

Karenanya untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki, yaitu dirahmati Allah SWT kita harus memperbaiki amalan dan hanya berharap rahmat dari Allah semata.

Berkata al-Hasan al-Bishri.”sesungguhnya mencita-citakan pengampunan itu telah memperdaya banyak orang sehingga mereka meninggalkan dunia dalm keadaan bangkrut, tidak memiliki bekal amal saleh sama sekali. Beliau menambahkan lagi. “seseungguhnya seorang mu’min itu beribadah seraya takut kepada Allah SWT, sedang seorang munafik membuat kejahatan seraya merasa aman dan tentram. Na’uzubillahi min dzalik.