Selasa, 09 Desember 2008

Taubat (1/2)

Taubat

Kitab Riadhu Sholihin

Hadist 16

Hadis yang disampaikan Abu Musa ra yaitu, “Sesunggahnya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT membentangkan tangannya diwaktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat dosa di siang hari, setelah ditunggu malam ini ada yang bertaubat, kemudian disiang hari Allah menawarkan lagi kepada kita untuk menerima taubatnya orang-orang yang bermaksiat di malam hari. Hingga timbulnya matahari ditempat yang bukan tempatnya (terbit dari barat/tanda kiamat)”

Sekilas tentang perowi hadist, Abu Musa al As’ari

Diriwayatkan oleh Abu Musa al As’ari ra yaitu Abdillah ibnu Qais ibnu Sulaim Abu Musa al As’ari Attamimi ra, ibunya bernama Tobyah bintu Wahab yang meniggal dalam keadaan Islam. Abu musa masuk Islam dalam periode Mekkah sebelum hijrah, al as’ari adalah kobilah dari Yaman yang kata Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist, akan datang satu kelompok yang hatinya begitu lunak dan mudah tersentuh dengan ke-Islaman bahkan mereka lebih lunak dari kalian (bangsa arab/hijaz), kemudian tidak beberapa lama datanglah kaum as’ari yang di maksudkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika mereka mendekat sebelum masuk kota Madinah, mereka mengucapkan sebuah syair ‘besok kita akan ketemu kekasih kita yaitu Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya’. Dalam satu ayat disebutkan, Nanti Allah akan datangkan suatu kaum yang mereka dicintai dan mencintai Nabi Muhammad SAW yang dimaksudkan adalah kaum as’ari.

Abu musa mempunyai 2 kakak, yaitu Abu Ruhm ra dan Abu Amir ra. Abu Amir ra meninggal ketika diutus oleh Nabi Muhammad SAW setelah perang hunain. Rasulullah mengirim pasukan kecil untuk masuk ke kobilah Jaiz autos, dan beliau adalah salah satu dari pasukan kecil itu. Ketika masuk kobilah tersebut ada perlawanan, Abu Amir ra yang mahir menggunakan pedang tetapi dipanah dari belakang oleh musuh, ketika kakaknya jatuh Abu Musa ra menyusul kemudian menanyakan kenapa engkau sampai terkena panah, apakah karena engkau lengah dalam peperangan, beliau menjawab tidak karena aku dipanah dari belakang. Ketika dilihat dibelakang ada musuh yang siap hendak melarikan diri, lalu Abu Musa ra mengejar orang itu. Lalu ia berkata ’wahai fulan apa kah begini sikap orang arab’ (karena orang arab terkenal dengan keberaniannya), lalu orang itu kembali dan menghadapi Abu Musa ra, terjadi perlawanan hingga orang arab tersebut mati. Setelah itu Abu Musa ra kembali menghampiri kakaknya dan mengatakan bahwa ia telah membunuh orang yang memanah kakaknya itu. Abu Amir ra memerintahkan untuk dicabut panah dari tubuhya, dan ketika dicabut keluar darah dan setelah itu keluar cairan. Beliau berkata kalo begini ajalku sudah dekat (karena lukanya yang sudah sangat parah), lalu beliau mengatakan sampaikan salamku kepada nabi Muhammad SAW.

Subhanallah... Ini menunjukkkan kecintaan sahabat kepada Nabi Muhammad SAW, dalam keadaan demikian tidak mengingat fulan, keluarganya atau ibunya tp beliau mengingat Nabi Muhammad SAW. Artinya aku terluka ini karena aku menjalankan perintahnya Nabi Muhammad SAW. Banyak sahabat yang demikian, bahkan ada sahabat yang diisyaratkan akan masuk syurganya Allah tp sahabat ini tidak terlihat gembira. Ketika ditanya kan kenapa, dia menayakan Ya Rasulullah SAW apakah aku di syurga akan bertemu dengan mu, ketika dikatakan akan bertemu baru sahabat ini tersenyum.

Kemudian Abu Amir ra minta kepada Abu Musa ra untuk mendo’akan agar diberikan ampunan oleh Allah, lalu dia meninggal dunia. Al Imam Nawani mengambil riwayat ini karena Abu Musa ra berhadapan dengan kakaknya yang memintakan ampunan kepada Allah ketika sebelum meninggal. Lalu Abu Musa ra menyampaikan apa yang dipesankan, lalu Nabi Muhammad SAW langsung mengangkat tangannya dan berdo’a dengan khusyu “ya Allah ampunilah dosa Abu Amir” dengan tangan yang tinggi hingga Abu Musa ra berkata beliau bisa melihat putihnya ketiak Nabi Muhammad SAW menunjukkan kekhusukan Rasulullah SAW ketika berdo’a. Setelah itu Abu Musa berkata ‘saya juga minta supaya mendapat ampunan Allah’ saat itu Rasulullah mengangkat tangannya lagi sambil berdo’a “Ya Allah ampunilah kepada Abdullah ibnu Qais dari dosa2nya dan masukkanlah dia ke dalam tempat Mu yang mulia (yaitu syurganya Allah)”. Cukuplah satu hadist ini merupakan keutamaan dan kemuliaan Abu Musa ra yang langsung mendapatkan do’a dari Nabi SAW suapaya diberi ampunan dan dimasukkan kedapam surganya Allah.

Adapun kelebihan yang menyangkut Abu Musa ra adalah beliau orang yang suka sekali melantunkan kalimat-kalimat Allah SWT. Rasulullah SAW ketika malam dan gelap suka mendengerkan suara yang melantunkan kalimat-kalimat Allah yaitu suaranya Abu Musa ra. Suaranya merupakan suara yang merdu, ada satu hadist yang menyebutkan ‘Abu Musa telah diberikan suara/kalimat/nada yang begitu merdu seperti merdunya Nabi Allah Daud as’. Bahkan dalam suatu kejadian Rasulullah pernah mengatakan ‘Wahai Abu Musa seandainya kamu tau apa akibat dari suara kamu ketika membacakan ayat-ayat Allah niscaya kamu tidak akan menghentikan bacaanmu karena malaikat ikut berkumpul mendengarkan’.

Abu Musa di karuniakan sebagian dari merdunya suara Nabi Allah Daud as. Nabi Allah Daud as diberikan suara yang begitu merdu, kata Al Imam ibdu Katsir ra, salah satu mu’jizat Nabi Allah Daud as, ketika membacakan dzabur maka semua manusia, hewan dan jin akan berhenti mendengarkan suara beliau dan tidak sedikit binatang yang lupa makan hingga mati karena menikmati merdunya suara Nabi Allah Daud as. Tapi Nabi Allah Daud as tidak pernah makan dari suaranya atau jabatannya sebagai raja, tp dari hasil tangannya membuat senjata kemudian dijual. Oleh karena itu kata Nabi Muhammad SAW ‘sebaik-baiknya rizki adalah yang dihasilkan dari tangannya’ seperti yang dilakukan oleh Nabi Allah Daud as. Terlebih lagi suara jika digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Kalo kita lihat sekarang subhanallah, baru diberi nikmat suara sedikit bagus sudah menjual agamanya. Padahal suara itu datangnya dari Allah dan nanti akan dituntut oleh Allah suara yang indah itu digunakan untuk menjadikan orang lain mendekat atau semakin menjauh kepada Allah.

Kebiasaan orang-orang arab itu memberi kiasan kepada seseorang seperti perumpamaan yang di berikan Rasul SAW kepada Abu Musa ra ini. Abu Musa ra juga termasuk ulama sahabat dari segi keilmuan. Al Aswat ibnu Yazid ra pernah mengatakan “Aku tidak pernah melihat dikufah / dibagdad saat itu orang yang lebih alim dari pada Ali bin Abi Thalib dan Abu Musa al as’ari”. Para ulama sepakat bahwa orang yang bisa menentukan hukum dan paling banyak menentukan fatwa yang pertama Ali bin Abi Thalib ra, lalu Umar bin Khatab ra , Abdullah Ibnu Mas’ud ra, Ubay bin kaab ra, Zaith bin Tsabit ra dan Abu Musa al as’ari ra. Seperti yang kita tau Perowi hadist yang paling banyak adalah Abu Hurairah ra, tp beliau tidak mengeluarkan hukum, karena kesepakatan ulama ahlussunnah wal jamaah tidak berarti orang yang paling banyak meriwayatkan hadist belum tentu yang paling alim. Abu Musa ra termsuk ulamanya para sahabat, padahal yang paling bodohnya sahabat dizaman Rasulullah adalah ulamanya ummat apalagi ulamanya para sahabat Rasulullah SAW.

Beliau meninggal pada tahun 42 Hijriah, 31 th setelah meniggalnya Nabi Muhammad SAW.


Tidak ada komentar: